//
you're reading...
Bingkai Perjalanan

Upgrade Diri Sebagai Sarana Menuju Keberuntungan

Jakarta, 18 Oktober 2010, pukul 23:06

Demi waktu, sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian besar, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholih, dan saling menasihati dalam hal kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran. (Al-Ashr : 1-5).

Beruntungnya, ayat diatas seringkali kita dengar, seringkali disampaikan, bahkan seringkali menjadi ayat dalam bacaan sholat kita terlebih saat terburu-buru. Akan tetapi sialnya, sebagian besar dari kita tidak pernah paham dan mempraktikan segala pelajaran yang ada didalamnya. Mungkin juga hal ini karena kualat pada surat ini yang selalu dijadikan surat pamungkas ketika kita sholat terburu-buru.

Surat diatas, dimulai dengan sumpah Alloh yang mengmbil kata waktu. Disini Alloh ingin menunjukkan pada kita betapa teramat pentingnya waktu. Satu-satunya milik kita yang teramat mahal kalau kita menyadarinya. Karena ketika dia sudah terlewatkan maka dia tidak akan pernah kembali lagi. Sang waktu ini akan terus berlalu, hari demi hari, jam demi jam, menit demi menit, sampai setiap detik pun akan terus berlalu menjadi perekam segala aktifitas kita. Maka tidak sepantasnya kita menyiakan waktu ini.

Kemudian pada ayat selanjutnya sampai akhir, Alloh menyampaikan bahwa manusia itu pada dasarnya adalah merugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholih. Disini kita diberitahu bahwa manusia itu sudah bermodal kerugian, alias bakal merugi deh gampangannya. Hanya saja Alloh memberi pengecualian, yaitu bagi mereka yang beriman dan beramal sholih.

Nah, kata-kata beriman dan beramal sholih ini mempunyai dampak, esensi, dan sentuhan dimensi yang teramat luas. Jikalau di-convert ke bahasa sekarang adalah upgrade atau peningkatan diri baik kualitas maupun kuantitas. Beriman adalah hasil upgrade dari keadaan jahiliah yang serba gelap gulita menjadi keadaan yang terang benderang. Upgrade dari sebelumnya calon penduduk neraka menjadi calon penduduk surga atau yang sebelumnya tergolong orang-orang yang terancam masuk neraka menjadi orang-orang yang terancam masuk surga, dan lain sebagainya.

Kemudian mengapa keta-kata beriman itu disambung dengan kata-kata beramal sholih dengan kata sambung ‘dan’? mengapa tidak dengan kata ‘atau’?kuncinya adalah kata ‘dan’ memerlukan kehadiran keduanya atau dalam bahasa logikanya, kalimat tersebut akan bernilai benar jika keduanya benar, misalnya seorang akan dikatakan masuk surga jika ia ‘benar’ beriman dan ‘benar’ beramal sholih. Sebaliknya jika menggunakan kata ‘atau’ maka kehadiran salah satu kata sudah menjadikan pernyataan itu benar, silahkan coba sendiri kalimatnya.

Subhanalloh, inilah kebesaranNya. Bahwa Alloh menuntun kita, apabila ingin menjadi orang-orang yang beruntung harus mengerjakan kedua hal tersebut, tidak boleh hanya salah satu saja. Misalnya beriman saja tapi amalnya kejahatan maka orang ini bukan termasuk orang yang beruntung. Atau kebalikannya, ada orang yang suka beramal baik terus, akan tetapi dia tidak beriman, maka juga menjadi orang-orang yang merugi.

Sekarang kita coba pisahkan kata-kata ‘…dan juga beramal sholih,,,’ untuk selanjutnya kita analisis kata-kata nya, maka kita akan mendapatkan makna bahwa kita harus senantiasa melakukan kegiatan, atau perbuatan, atau amal-amal yang baik yang bermanfaat tidak hanya untuk diri kita tetapi juga untuk lingkungan sekitar kita.

Nah sekarang yang perlu dicermati adalah, bagaimana kita bisa beramal sholih jika kita tidak memiliki apa yang bisa kita pake untuk beramal. Misalnya, pada saat marak-maraknya gerakan pelestarian lingkungan hidup, dan butuh seorang koordinator untuk menkonsolidasi orang-orang yang menaruh perhatian pada lingkungan hidup. Alhasil, apabila ia tidak punya kapasitas untuk itu, organisasi tidak akan jalan.

Nah inilah yang secara eksplisit ayat diatas menyuruh kita untuk senantiasa mengupgrade diri agar output pribadi ini bisa maksimal. Teringat pada apa yang dikatakan oleh seorang trainer, bahwa input + proses = output. Bagaimana kuantitas atau kualitas output seseorang itu mencerminkan input nya dan bagaimana proses yang ia lakukan. Mungkin kalo saya bisa bilang bahwa akan berlaku hukum kesearahan. Semakin baik input dan proses nya semakin berkualitas dan semakin tinggi kuantitas dari output seseorang.

Kalau kita ingat intisari salah satu peringatan Rosulullah SAW, “barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemaren ia beruntung, barangsiapa hari ini sama dengan kemaren maka ia merugi, dan barang siapa hari ini lebih buruk dari kemaren maka ia celaka”. Dari intisari hadis ini juga Rosulullah senantiasa menuntut umatnya untuk mengupgrade diri. dan tidak tanggung-tanggung bahwa orang yang senantiasa mengupgrade dirinya langsung disebutkan sebagai orang-orang yang beruntung.

Tapi tidak dipungkiri juga bahwa ‘Al iman yazid wa yankus’. Akan tetapi kita sebenarnya tau cara-cara mensiasatinya, dan pada tulisan ini penulis tidak akan berbicara panjang lebar tentang hal ini karena akan mebutuhkan space, waktu dan bab tersendiri.

Berjuta cara dan jalan untuk mengupgrade diri, baratus ribu sarana juga tersedia. Sekarang tinggal kita saja yang akan memanfaatkannya kah atau terus-menerus melewatkannya. Kalau boleh penulis rangkum tentang peng-upgrade-an diri ini ada beberapa kunci yang selalu membuat setiap waktu yang kita habiskan menjadi berharga yaitu :

–          Jadikan kegiatan kita atau berkumpulnya kita dengan teman kita itu menambah ketaqwaan kita

–          Jadikan datangnya kita ke suatu tempat itu menambah pengetahuan kita, apapun itu. Selalu ambil ibroh dan hikmah walaupun terkadang kita awalnya melihat kunjungan itu tidak ada apa-apanya, tapi segeralah mencari apa yang bisa menguntungkan kita

–          Jadikan kegiatan kita atau berkumpulnya kita menjadikan diri kita makin sehat

–          Jadikan kegiatan kita atau berkumpulnya kita meningkatkan kemampuan manajerial kita

–          Jadikan kegiatan kita atau berkumpulnya kita itu dapat berdampak pada finansial kita

–          Jadikan kegiatan kita atau berkumpulnya kita menambah hubungan sosial kita

So dengan ini hendaknya kita senantiasa mengupgrade diri dengan memanfaatkan segala kesempatan dan segala sarana yang ada. Karena kesempatan itu tidak datang dua kali, maka penulis beranggapan sungguh beruntung orang yang selalu memanfaatkan kesempatan dengan baik terlebih jika ia sering mendapatkan kesempatan itu secara kebetulan atau Cuma-Cuma. Akan tetapi ia akan sangat merugi jikalau ia melewatkan begitu saja kesempatan-kesempatan tersebut.

Semoga hal ini dapat menjadi bahan renungan, agar kita tidak pernah henti-hentinya untuk meningkatkan kualitas kita sehingga output nya tidak hanya berkualitas tapi juga bervolume besar. Karena seperti di gambarkan dalam surat Al-Ashr dan hadis Rosululloh SAW bahwa orang-orang yang senantiasa memperbaiki diri dan senantiasa beramal sholih, maka ia adalah orang-orang yang beruntung. Apakah kita ingin termasuk orang-orang yang beruntung? Maka selalu bertanya pada diri kita apa output kita sehingga kita pantas untuk dimasukkan menjadi orang-orang yang beruntung? Wallohu’alam bisshowab.

 

 

About Agung Andiojaya

Simple is better,,, Semoga dengan kesederhanaan ini aku bisa menjadi Hamba yang mendapat Rahmat-Mu dan menjadi hamba yang bermanfaat bagi alam yang Engkau ciptakan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: