//
you're reading...
Bingkai Perjalanan, Makro

Kalah di Pasar Sendiri

Konsumerisme

ilustrasi

Data BPS hasil sensus penduduk 2010 menyatakan bahwa jumlah penduduk Indonesia per Mei 2010 sejumlah 237,6 Juta Jiwa. Sebuah angka yang cukup fantastis. Implikasinya apa, bahwa dengan jumlah penduduk sebesar itu, merupakan sebuah lahan pasar yang sangat potensial.

Buktinya, meskipun keadaan dalam negeri ini tidak stabil (bukan kurang stabil), namun preferensi para investor dan pedagang asing bak banjir bandang melanda negeri ini. Hal ini sangat dirasakan, terlebih setelah mulai diresmikannya perjanjian demi perjanjian tentan free trade zone dengan beberapa negara yang sayangya, karena entah itu kurang pengkajian tentang modal yang kita punya atau tidak, atau paling tidak apakah pemegang keputusan tersebut telah mendasarkan keputusannya pada data yang dimiliki atau tidak. Kita sudah kalah sebelum ber”dagang”. Kita telah menjadi orang yang sudah diprediksi sebagai yang merugi.

Seharusnya, sebelum memutuskan apakah masyarakat kita, bangsa kita sudah siap atau belum dengan pemberlakuan free trade zone tersebut, melalui data ekspor dan impor dapat dikaji bagaimana gambaran kekuatan kita. Namun hal ini telah terlambat, sekitar 3 hari yang lalu (Senin, 25 April 2011) di berbagai media memberitakan Menteri Perdagangan akan melakukan peninjauan ulang ACFTA. Ya, perjanjian perdagangan dengan Cina. Sangat disayangkan, pikiran sang Menteri bisa saja muncul dari dulu jika saja sang Menteri ini mau melihat data perkembangan ekspor dan impor Indonesia.

Data Ekspor dan Impor memperlihatkan bagaimana kinerja perdagangan Indonesia dengan luar negeri. Barang-barang apa saja yang diperdagangkan, barang-barang apa saja yang selalu menambah devisa, dengan negara mana saja kita defisit dan surplus, dll.

Sebagai contoh dengan Cina, kalau melihat riwayat ekspor dan impor, Indonesia selalu defisit. kemudian Jika dilihat secara keseluruhan barang ekspor dan impor, kebanyakan yang menghasilkan surplus adalah golongan barang yang termasuk bahan baku. Jadi, bisa di simpulkan bahwa barang-barang perdagangan dari Indonesia yang berupa barang-barang olahan atau hasil industri kurang bisa bersaing dengan barang-barang yang sama yang dihasilkan oleh negara lain.

Jadinya apa, jika kita tidak waspada, Kita akan benar-benar menjadi pasar dari hasil olahan kekayaan alam kita sendiri. Indonesia tidak akan mengenal lagi produk yang dibeli itu asalnya alias bahan bakunya ya dari Indonesia juga.

Branding mindset, itu yang mungkin menyebabkan kita kalah di pasar sendiri.

About Agung Andiojaya

Simple is better,,, Semoga dengan kesederhanaan ini aku bisa menjadi Hamba yang mendapat Rahmat-Mu dan menjadi hamba yang bermanfaat bagi alam yang Engkau ciptakan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: