//
you're reading...
Bingkai Perjalanan

Seni Memanipulasi Data : Tanpa Mengubah Angka

ilustrasi

ilustrasi

Let’s Enjoy the Statistics,,,mungkin kata itu lah kata yang sedikit ndeso untuk menggambarkan betapa asyiknya orang-orang yang mampu menguasai filosofi statistik. Sehingga dalam setiap kesempatan dalam kesehariannya dia tidak saja menyerah dengan angka-angka yang “merepresentasikan” keadaan sekitarnya, tetapi dia mampu membuat “keadaan sekitar” terepresentasi dengan angka. Bingung tho? lha wong saya juga bingung dengan pemikiran ini.

Latar belakang tulisan ini dibuat adalah tidak lebih karena kekaguman saya terhadap strategi pemimpin di suatu negeri antah berantah. Kabar ini saya dapatkan ketika saya mengikuti Salah satu rapat dengar pendapat di Gedung Perwakilan Rakyat “Katanya”. Meskipun saya disitu hanya jadi pendengar saja. Saya berdiskusi dengan atasan saya tentang pertanyaan yang dilontarkan salah satu anggota dewan yang terhormat (katanya). Yaitu tentang kemiskinan.

Tiba-tiba atasan saya nyeletuk, “thole (Panggilan saya). Kalau seandainya kemiskinan di Indonesia itu angkanya mau di buat nol pun itu bisa lho”. Jawab saya,”Hah, masak iya kang?gimana caranya, apa dengan mengubah angkanya?”. Sambung atasan saya lagi,”Oooo, tidak perlu,,tidak perlu,,,”.

Lalu atasan saya melanjutkan,”Kamu membaca berita gak sekitar triwulan I (Januari,februari, dan maret) pemerintah kita sedang meluncurkan program apa? lalu, kemaren kenaikan BBM juga bulan apa?”. Sejurus kemudian saya mengingat-ingat ulang. Pada triwulan I-2011 ini sepertinya ada operasi pasar, kemudian pemberian raskin, penundaan kenaikan BBM, kenaikan gaji PNS 10%, dan lainnya yang luput dari pandangan saya. Akan tetapi hal-hal tersebut sudah cukup untuk menganalisis apa ada udang dibalik batu tersebut.

Dengan kegiatan/program pemerintah yang dijalankan di trwulan 1 tersebut, hasilnya adalah turunnya angka kemiskinan. Lho kok bisa? Ingat Angka Kemiskinan itu didapatkan dari survey yang dilakukan pada bulan Maret. Sehingga dengan mempengaruhi variabel-variabel yang di cari di survey pada tiga bulan pertama pada saat survey dilaksanakan secara tidak langsung telah membuat semacam “kontrol” terhadap variabel-variabel tersebut.

Di negeri antah berantah ini kan penduduk miskin adalah mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan. Jadi ingat, garis kemiskinan inilah yang jadi patokannya. Nah, dengan memberikan kontrol terhadap variabel-variabel dalam survey, semisal makanan yang dibeli seminggu yang lalu; karena harga beras yang memiliki bobot tertinggi sudah turun ya jadilah pengeluaran untuk beras menjadi lebih kecil. Karena komoditas yang memiliki sumbangsih besar ini turun, maka secara riil (bukan secara nominal yaa) garis kemiskinan ini menjadi turun. Atau dengan kata lain banyak masyarakat yang ter”entas”kan diatas garis kemiskinan. Minimal, mepet2 diatas garis kemiskinan lah.^^.

Buktinya apa, kita coba bandingkan angka-angka pada tabel berikut ini, karena data 2011 itu belum ada, jadi kita simulasikan dengan data 2010 ya,

Jumlah Penduduk Miskin (ribu Orang) Garis Kemiskinan (Rp/Kapita/Bulan)
2009 2010 2009 2010
32 529,97 31 023,39 200 261,86 211 725,73

Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa secara riil keadaan masyarakat naik. Atau kalau kita lihat tabelnya, tampak bahwa garis kemiskinan naik dari Rp200.261,86 ke Rp211 725,73. Kalau kita pikir simple-simple aja, harusnya dengan kenaikan ini, otomatis masyarakat miskin bertambah. Tapi jangan lupa bahwa keadaan ekonomi masyarakat terus bertumbuh. Yang artinya, suntikan program dari pemerintah tersebut, telah menaikkan keadaan ekonomi masyarakat sehingga terjadilah pengurangan masyarakat miskin. Karena kenaikan keadaan ekonomi masyarakat lebih besar dibandingkan dengan kenaikan garis kemiskinan itu sendiri.
Lha kok bisa? ya bisa-bisa aja. Kita balik lagi ke uraian diatas tadi, karena survey dilakukan di triwulan I, sehingga pada saat terjadinya survey tersebut;akibat adanya program-program pemerintah plus tadi disebutkan salah satunya penundaan kenaikan BBM dll, jadilah keadaan ekonomi masyarakat menaik.
Nah inilah yang membuat saya sangat kagum sampai geleng-geleng kepala (tapi bukan dugem ya..) kepada pemimpin negri entah berantah itu. Beliau dengan sangat “elegan” mampu mempergunakan statistik dan alat-alatnya dengan teramat jitu. Yah, mungkin itu ya bedanya pemimpin abal-abal sama yang beneran pemimpin.
Bagaimana tidak, disaat yang gak punya otak;misal lembaga survey independent pada waktu pemilu; untuk memperoleh statistik yang sesuai kebutuhannya dia menabrak semua aturan-aturan mendapatkan data yang baik. Itu mah trik murahan.
Tapi bandingkan dengan cara pemimpin tersebut. Survey yang dilakukan oleh Badan Statistik Terpercaya, yang gak perlu diragukan lagi penggunaan metodologi dan keshahihan datanya. Tapi statistiknya dapat disesuaikan dengan apa yang dibutuhkan pemimpin tersebut. Dengan apa? ya dengan pemahaman sederhananya bahwa statistik-statistik itu, sehebat apapun metodologinya, serepresentatif apapun respondenya, tapi ketika merujuk pada waktu pengambilan sampelnya. Nah disitu Beliau melihat celahnya. Yang dipermainkannya adalah waktu.

About Agung Andiojaya

Simple is better,,, Semoga dengan kesederhanaan ini aku bisa menjadi Hamba yang mendapat Rahmat-Mu dan menjadi hamba yang bermanfaat bagi alam yang Engkau ciptakan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: