//
you're reading...
Bingkai Perjalanan, Keluarga

Cerita Perjalanan : “How Flat Your Life?”

Gunung Padang Pasir

Sebenarnya sudah sejak lama ingin menuliskan cerita ini, tapi baru kali ini keinginan itu terealisasi. Ya kisah ini saya dapatkan sekitar bulan Januari 2011 lalu, saat saya naik pesawat dari Makassar kembali ke Jakarta. Seperti biasa, dalam setiap perjalanan “terbang” saya, selalu membaca majalah armada yang saya tumpangi yang biasanya diletakkan di kantung tempat duduk depan bersama dengan buku petunjuk keselamatan. Yup, langsung saja, setelah penumpang yang duduk sebaris dengan saya ada semua, yup saya ambil majalah tersebut, ya hitung-hitung sambil nunggu pesawat take off.

Sekilas saya perhatikan cover nya sudah cukup “menggoda” selera membaca saya. “Berlibur ke Pulau Raja Ampat”. Tak ragu saya mulai membuka-buka majalah tersebut. Saking saya ingin agar waktu membaca majalah tersebut sama dengan waktu perjalanan saya, sampai-sampai setiap lembar halaman pun tidak luput dari scanning mata saya. Meskipun itu cuma iklan. Sampai pada artikel yang saya senang menyebutnya dengan “renungan”, penulisnya, hmm,,saya lupa dengan beliau, menulis tentang sesuatu yang berhubungan dengan interaksi dalam dunia perkantoran. Sikap perilaku yang bisa jadi hal tersebut memang (maaf ya pak) pengalaman beliau. hehe. Judulnya : “How’s Flat Your Life.” Berikut akan coba saya tulis ulang ya di postingan ini :

Alkisah, di kantor Jaya Gemah Ripah. Ada seorang pegawai (Sebut saja namanya dengan Pak Somse) yang baru mendapatkan promosi menjadi seorang direktur di tempatnya. Tentunya, dengan sedikit trik sikut sana dan sini. Sebelum direktur yang lama mengundurkan diri, direktur tersebut memberikan pesan pada Pak Somse agar meneruskan perjuangannya membangun perusahaan ini. Perpisahan dengan direktur lama pun berlangsung sangat meriah. Wajar saja, karena beliau selama menjadi direktur disitu sangat memperhatikan anak buahnya, jarang ketika anak buah salah langsung dimarahi, dan yang paling membuat para anak buah menaruh hormat adalah beliau tidak segan-segan untuk turun tangan membantu jika ada seorang anak buahnya menghadapi permasalahan yang tidak diselesaikannya.

Mulai lah Pak Somse menjalankan perannya yang baru. Yang pertama ia lakukan adalah membuat aturan-aturan tentang kerja. Salah satunya, ia membuat aturan-atuarn keprotokolan untuk berhubungan dengan beliau yang mana peraturan tersebut tidak pernah ada di zaman direktur sebelumnya. Secara tidak sadar ia mulai membatasi pergaulannya, terlebih dengan adanya peraturan tersebut ia telah membangun tembok diekelilingnya. Hal itu sangatlah tercermin pada pembuatan ruangan khusus pimpinan yang semakin memisahkan ia dengan anak buahnya.

Hari demi hari, tembok yang memisahkan antara Pak Somse dengan anggota kerjanya semakin tinggi. Memang pemisah antara mereka adalah tembok kaca yang hanya selebar berapa centimeter, tapi secara psikologis, mereka sudah sangat jauh. Bahkan berbagai aturan keprotokolan dibuat untuk menemui beliau. Ditambah lagi kebiasaan dia yang datang seenaknya dan ada di kantor juga seenaknya. Dia selalu tidak ada ketika anak buah membutuhkannya. Dia selalu susah untuk ditemui jika anak buah butuh suatu solusi.

Akhirnya jadilah sang anak buah seringkali berunding antar mereka untuk memutuskan suatu perkembangan tertentu. Hingga akibat ulahnya itu, dia semakin menjadi atasan yang tidak tahu apa-apa. Jadilah ia seorang yang merasa kesepian ditengah keramaian.

Pada suatu hari, datanglah direktur yang lama bersama rombongan mengunjungi kantor lama untuk memeriksa perkembangan keadaan kantor yang ditinggalkannya. Ia disambut dengan baik sekali dengan semua anggota kantor disitu. Pegawai disitu mnyambutnya dengan suka cita. Begitupun dengan direktur lama juga tak sungkan untuk bercanda dan bercengkrama dengn para pegawai.
Pada saat acara temu bersama di ruang rapat, sang direktur lama pun bercerita panjang lebar tentang bagaimana perkembangan perusahaan saat ini. Para pegawai masih pun tak kalah menariknya menanggapi hal itu. Kecuali pak somse. Ia myak diamnya, bahkan setiap kali menimpali apa yang dipeebincangkan oleh direktur lama, banyak gak nyambungnya.
Bagaimana mau nyambung, wong mengecek perkejaan para pegawainya saja jarang dilakukan. Saring tentang permasalahan ataupun perkembangan pekerjaan juga sangat jarang dilakukan. yang ada malah namahin beban bagi pegawainya.
Akhirnya, sang direktur lama menyadari ada yang tak beres dengan Pak Somse. Sejurus berikutnya, sang direktur lama meminta Pak Somse untuk keluar ruangan dulu karena ada ang ingin dibicarakan khusus dengan para pegawai disitu. Setelah pak somse keluar, tumpahlah segala keluh kesah dari pegawai. Dan selanjutnya, silahkan anda lanjutkan kisahnya sesuai dengan versi anda.
Pelajaran yang dapat diambil adalah, bagaimana kita dapat membngun komunikasi yang baik dengan orang lain. Terutama dengan bawahan kita. Memang kita perlu memberi batasan atas pergaulan kita dengan bawahan agar tetap berwibawa. Tapi janganlah batasan itu malah menjadi suatu tembok pemisah antara kita dan bawahan atau orang lain. Karena pada prinsipnya, kesuksesan yang kita raih itu juga karena andil bawahan dan orang lain disekitar kita. So, how flat your life?

About Agung Andiojaya

Simple is better,,, Semoga dengan kesederhanaan ini aku bisa menjadi Hamba yang mendapat Rahmat-Mu dan menjadi hamba yang bermanfaat bagi alam yang Engkau ciptakan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: