//
you're reading...
Analisis Data, Bingkai Perjalanan, Sosial

KRL commuterline : Solusi yang butuh solusi

Commuter Line

Commuter Line

Berdasarkan data BPS, jumlah penduduk Jabodetabek yang menggunakan jasa Kereta Api untuk mobilitasnya mencapai sekitar 300ribu sampai 370 ribu seharinya. Berikut data penumpang kereta api untuk wilayah jabodetabek dari tahun 2010-2011 :

Dan, sebagaimana sudah diketahui, bahwa dari sebagian besar jumlah tersebut adalah para pekerja. Sehingga dapat ditarik kesimpulan, bahwa kebutuhan transportasi kereta api tersebut sangat urgen di waktu-waktu tertentu saja, yaitu jam berangkat dan pulang kantor. Bahkan dari salah satu pemberitaan media dikabarkan bahwa pada peluncuran perdananya (detik.com,2 Juli 2011), karena saking banyaknya penumpang yang berebut naik dan akhirnya kereta penuh sesak, pintu commuterline “terpaksa diganjal tangan” para penumpang agar udara dalam gerbong tidak pengab dan mudah untuk keluar masuk. Sehingga pada peluncuran perdananya, penerapan KRL commuter line sebagai solusi atas ruwetnya masalah angkutan perkeretaapian lokal di jabodetabek, praktis “melenceng” dari yang diharapkan. Penciptaan sarana angkutan kereta api yang aman, nyaman, dan tepat waktu sudah seperti kata pepatah : “Jauh Panggang dari Api”.

Berjubel di Kereta

Berjubel di Kereta

1. Angka berbicara

Memang suatu ironi melihat hal yang demikian. Namun, jika kita berbicara dengan data tentang keadaan ini kita setidaknya akan sedikit bisa “mafhum”, mengapa permasalahan ini muncul. Data BPS yang bersumber dari PT KAI yang telah penulis kutip diatas menunjukkan bahwa dalam sehari rata-rata penumpang KRL Jabodetabek adalah sekitar 300ribu – 370 ribu. Ambil saja nilai tengahnya lagi 350 sehari. Namun, selanjutnya karena kita akan melihat bagaimana keadaan pada saat hari kerja maka kita akan ikutkan juga suatu penimbang.

Penimbang yang dimaksud disini adalah, seperti telah penulis sebut diatas, bahwa “rame-rame” nya penumpang itu pada pagi hari jam 5.30-8.00 kemudian pada sore hari jam 16.30-20.30. So, misalnya kita asumsikan dua waktu itu, ada sekitar 50 persen penumpang yang melakukan perjalanan dengan kereta menuju tujuan yang sama. kalau pagi hari masuk Jakarta, sedangkan kalau sore hari keluar jakarta.

Kita coba lihat yang Pagi. Dengan mengasumsikan ada 25 persen saja yang naik commuter line pada pagi hari, akan ada sekitar 87.500 an penumpang yang masuk ke Jakarta naik commuter line. Kalau kita asumsikan satu gerbong dengan kondisi tidak nyaman (baca = berdesak-desakan) dapat muat sampai 400an orang. Maka kebutuhan gerbong pada pagi hari sebesar : 220an gerbong. Kalau satu kereta hanya menarik 4-5 Gerbong, berarti dibutuhkan sekitar 44 s.d 54 Commuter line pada Pagi hari saja. Tapi ingat, gambaran ini adalah gambaran kondisi paling mengenaskan. Karena dapat dibayangkan kalau satu gerbong diisi 400an orang. (Sumber : detik.com — Corporate Secretary PT KCJ Makmur Syaheran menyatakan bahwa pada tahun 2019 PT KAI memiliki target 1,2 juta penumpang dan diangkut 1440 gerbong. Jadi didapatkan angka pergerbong diisi 416 penumpang ; cara hitungnya : 1,2 juta dibagi dua- pulang dan pergi, terus dibagi 1440 gerbong. Sadis banget ya PT KAI).

2. Pelayanan VS Bisnis

Inilah yang menjadi polemik bagi Perjalanan PT KAI. Bertugas untuk melayani kebutuhan masyarakat pada moda transportasi kereta api akan tetapi juga dituntut untuk meraih laba agar tetap “eksis”. Inilah kalau dari kacamata kita para konsumen yang menghendaki pelayanan sebaik-baiknya dengan mengeluarkan ongkos yang paling minimum.

3. Kategori Masyarakat

Akan tetapi, pada saat yang sama, teori ekonomi yang saya sebutkan diatas tidak berlaku disaat ini dimana ketika terjadi kenaikan pendapatan masyarakat secara umum. maka yang menjadi tuntutan dari masyarakat yang seperti ini adalah pelayanan yang baik. Bolehlah kita katakan bahwa ada kategori yang ada di dalam masyarakat.

Kategori pertama adalah masyarakat dengan pendapatan dibawah standar. Kategori kedua adalah masyarakat dengan pendapatan rata-rata, dan kategori ketiga adalah masyarakat dengan pendapatan diatas rata-rata. Untuk masyarakat kategori pertama memang yang menjadi konsen mereka bukan pada pelayanannya, tapi karena kebutuhannya. Mereka mau berdesak-desakan di kereta, mau antre di puskesmas, mau antre waktu buat SIM karena suatu “keterpaksaan” yang disebabkan ketidak berdayaan di bidang ekonomi. Untuk pelayanan kereta sendiri. Masyarakat yang ada di kategori ini tidak terlalu mempermasalahkan. Permasalahan mereka adalah apakah hari ini saya dapat “terangkut” tidak.

Masayarakat pada kategori kedua dan ketiga inilah yang sebenarnya menuntut adanya garis lurus antara harga yang mereka bayarkan dengan kualitas pelayanan. Bahkan untuk sebagian masyarakat di kategori kedua yang berada dekat dengan garis bawah kategori ketiga dan masyarakat kategori ketiga akan kekurangan elastisitasnya terhadap harga sebuah kereta. Dan sebaliknya akan sangat elastis mungkin pada perubahan kualitas sebuah layanan.

Mengapa dikatakan demikian, karena mereka tidak lagi berbicara tentang apakah saya terangkut atau tidak, tapi apakah saya akan “nyaman” dengan pelayanan yang diberikan. Seperti kasus pada para penumpang kereta ekspres. Meskipun harga tiketnya lebih mahal, tetapi para pelanggan kereta ekspress tidak berkeberatan dengan harga tersebut karena pelayanan yang didapatkan (terutama waktu) lebih mereka hargai daripada uang yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan pelayanan tersebut.

4. Solusi yang butuh Solusi

Sejak comuter line diluncurkan hingga hari ini (14 Juli 2011), para “roker” (rombongan kereta, sebutan untuk para pelanggan kereta) masih merasa tidak puas dengan pelayanan yang diberikan. Awalnya, commuter line itu diluncurkan agar menjadi solusi bagi permasalahan yang ada, seperti tidak terangkutnya penumpang, waktu tunggu yang lama, kemudian yang lebih jauh lagi adalah untuk menarik masyarakat yang “terjebak” macet dijalan agar beralih ke moda angkutan kereta listrik ini. Namun apa daya, solusi yang diharapkan ternyata tidak juga menunjukkan bahwa langkah ini adalah solusi bagi permasalahan yang ada.

Karena fokus penyelesaian masalah bukan pada akar-akar masalah yang ada. Coba kalau pandangan para pengambil kebijakan di kereta itu di fokuskan pada “Bagaimana menyediakan angkutan massal yang nyaman, terjangkau (bukan murah lho ya), aman, dan berkualitas”. Kita tunggu,,,

About Agung Andiojaya

Simple is better,,, Semoga dengan kesederhanaan ini aku bisa menjadi Hamba yang mendapat Rahmat-Mu dan menjadi hamba yang bermanfaat bagi alam yang Engkau ciptakan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: