//
you're reading...
Analisis Data, Sosial

Polemik Angka Kemiskinan : Ragam Sumber dan Penafsiran

Berbicara masalah kemiskinan, sepertinya tidak akan pernah ada habis-habisnya bahkan seringkali menjadi bahan perdebatan berkepanjangan. Angka yang dikeluarkan tiap-tiap lembaga yang dipercaya pun, tidak hanya akan menimbulkan polemik bagi pemerintah yang berjalan tapi juga bagi lembaga tersebut. Kalau boleh meminjam istilah yang digunakan oleh salah satu penulis di kompasiana, “Bagaikan pisau bermata dua”. Karena, saat ini angka kemiskinan ini benar-benar strategis terlepas banyaknya pihak yang dapat saya katakan bergantung pada besaran angka ini. Sebut saja bagi pemerintah dapat digunakan untuk mengklaim keberhasilannya, bagi oposisi dapat digunakan untuk menjatuhkan pemerintah yang ada, lalu bagi lembaga-lembaga asing (semisal world bank) sesuai dengan kepentingannya bisa jadi ujung-ujungnya untuk menawarkan program-program pengentasan kemiskinan yang gak jauh-jauh juga dari hutang.

Sama Sumber Data tapi “Seakan” Berbeda Angka?

Tidak ada jalan lain untuk memahami angka-angka kemiskinan selain berusaha mencari darimana dan bagaimana angka-angka tersebut tercipta. Mengapa, karena memang tidak ada ukuran yang pas untuk mendeskripsikan Kemiskinan itu sendiri. Oleh karena itu, Konvensi Internasional yang dikeluarkan oleh PBB dan telah disepakati berbagai negara yang ada di bawahnya menyatakan adanya standar dalam metode penghitungan angka kemiskinan. Tujuannya adalah untuk menjaga keterbandingan angka-angka kemiskinan antar negara. Lalu mengapa terjadi perbedaan angka kemiskinan yang dirilis oleh BPS dan Bank Dunia? Perlu diketahui oleh semua bahwa, angka-angka kemiskinan yang berbeda versi tersebut, berasal dari sumber yang sama yaitu dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang tentunya dalam hal ini, BPS telah mengikuti standar penghitungan menurut PBB.

Untuk mengetahui angka kemiskinan, pasti gak jauh-jauh dari yang namanya Garis Kemiskinan (GK). GK adalah suatu ukuran yang digunakan untuk menggolongkan seseorang itu dikatakan miskin atau tidak. Sehingga, dengan mudahnya kita dapat menyimpulkan bahwa seseorang dikatakn miskin jika pengeluarannya dalam sebulan dibawah GK. Besaran GK, sesuai dengan konvensi Internasional, merupakan pengeluaran minimal seseorang untuk memenuhi hak-hak dasarnya. Hak-hak dasar ini dikategorikan menjadi dua, yaitu Makanan dan Non-Makanan.

Kebutuhan dasar Makanan didasarkan atas pemenuhan minimal energi seseorang untuk beraktifitas dalam sehari yang diukur dalam Kilo Kalori (Kkal) yaitu menggunakan ukuran 2100 Kkal. Sedangkan Non Makanan, adalah pemenuhan hak dasar di bidang pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kemiskinan adalah Kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang tidak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat.

Kemiskinan Makro vs Mikro

Tabel Ringkasan Pengukuran kemiskinan di Indonesia

Perbedaan Kemiskinan Makro Kemiskinan Mikro
Metodologi: Konsep: Basic Needs Approach
Didasarkan pada Garis Kemiskinan: Makanan (2100 kkal per kapita perhari ) + Non Makanan
Pendekatan Kualitatif
Didasarkan pada ciri-ciri RT miskin supaya pendataan cepat dan hemat biaya (14 variabel ++)
Sumber data Susenas (sampel) Sensus
Cakupan Data Data menunjukkan jumlah penduduk miskin di setiap daerah berdasarkan ESTIMASI Data menunjukkan jumlah RT Sasaran (miskin + hampir miskin) – by name by address
Kegunaan:
  • Berguna untuk perencanaan dan evaluasi program kemiskinan dengan target geografis
  • Tidak dapat menunjukkan siapa dan dimana alamat penduduk miskin sehingga tidak operasional untuk program bantuan langsung
Berguna untuk target sasaran rumah tangga secara langsung (BLT, PKH, Raskin, Jamkesmas)

Sumber : Badan Pusat Statistik (2011)

Dari tabel diatas kita sudah dapat membedakan antara kemiskinan makro dan kemiskinan mikro. Lantas timbul pertanyaan, kalo akhir-akhirnya adalah bantuan program untuk orang miskin mesti ada dua angka yang berbeda untuk menyatakan kemiskinan? Kalau menjawab pertanyaan seperti ini, kita lihat kembali konsep dan definisi sekaligus lihat tabel perbedaan diatas.
Yang perlu menjadi perhatian adalah bahwa angka pada kemiskinan mikro itu adalah jumlah penduduk yang miskin dan hampir miskin. Karena, kalau tujuan pendataan tersebut adalah untuk menaikkan kemampuan penduduk miskin, maka agar penduduk yang berada sedikit diatas garis kemiskinan tidak jadi kategori miskin, maka perlu juga didata kan untuk memberi bantuan. Tentang simulasi penghitungan bantuan ini nanti akan saya paparkan pada tulisan lainnya.
Jadi, Tolong bagi pemerhati statistik Kemiskinan Indonesia, para ahli, para pengamat, sebelum berkomentar di media yang mengakibatkan gempar masyarakat yang belum ngeh dengan yang seperti ini, Berhati-hatilah dalam mengeluarkan pernyataan. Telaah dulu dan cari referensi sebanyak-banyaknya. Bukankah sewaktu anda melakukan penelitian juga pasti mencari referensi tentang suatu teori atau pernyataan yang ingin anda kutip. Kecuali kalau anda tidak pernah melakukan penelitian, ya terserah anda mau ngomong apa..

About Agung Andiojaya

Simple is better,,, Semoga dengan kesederhanaan ini aku bisa menjadi Hamba yang mendapat Rahmat-Mu dan menjadi hamba yang bermanfaat bagi alam yang Engkau ciptakan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.022 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: