//
you're reading...
Analisis Data, Ekonomi

Ketika orang-orang kaya Indonesia ikut berebut subsidi

25 Mei 2012 – Antrian mengular yang terjadi di beberapa SPBU di daerah akhir-akhir ini memang cukup memprihatinkan. Bukan saja karena kurangnya pasokan BBM di beberapa tempat, tetapi juga karena yang ikut mengantri banyak yang merupakan mobil pribadi, mewah pula. Mengantre nya pun berada di jalurnya BBM bersubsidi. Meskipun spanduk besar himbauan untuk tidak mengisi bahan bakar mobil dengan bensin bersubsidi. Namun, sepertinya spanduk yang dipasang oleh Pertamina itu seperti lukisan penghias pintu masuk SPBU saja.

Minyak dalam APBN

Maret lalu, pemerintah memberikan wacana untuk pengurangan subsidi BBM yang berarti harga BBM bersubsidi akan naik. Wacana ini dilontarkan dengan pertimbangan menjaga peningkatan defisit APBN yang terus membengkak dari tahun ke tahun. Menurut data dari Worldbank, pada tahun 2010 defisit APBN kita mencapai 0,6% dari PDB, sedangkan di tahun 2011 meningkat mendi 2 kali lipatnya. Nah, ditahun 2012 ini, dengan asumsi harga minyak US$105 per barel maka diperkirakan defisit anggaran akan mencapai 2,2% dari PDB.

Nah, kekhawatiran pemerintah memang cukup beralasan, karena dalam tiga bulan pertama di tahun 2012 saja, harga rata-rata minyak Indonesia mencapai US$122 per barel. Dengan harga yang melebihi US$122 per barel, maka defisit anggaran bisa mencapai lebih dari 3% dari PDB, dan indikasi berarti akan ada pengurangan belanja pada bidang-bidang yang menjadi prioritas pembangunan.

Pemerintah tidak tegas

Wacana tersebut akan diputuskan pada awal april 2012. Berbagai langkah untuk meyakinkan DPR dan rakyat ditempuh oleh pemerintah bahwa langkah yang akan dijalankannya itu sudah tepat. Berbagai jaring pengaman sosial pun di canangkan untuk menopang dampak kenaikan BBM ini pada masyarakat yang rentan.

Tapi apa mau dikata, sekali lagi pemerintah telah menggeser wacana tersebut menjadi isu nasional saja. Pada tanggal 1 April 2012 pemerintah melalui pidato presiden mengumumkan secara resmi bahwa rencana keniakan BBM akan ditunda sembari memantau perkembangan harga minyak dunia. Pemerintah baru akan menaikkan harga BBM jika harga minyak dalam 6 bulan berjalan melampaui 15% dari harga asumsi sebesar US$105 per barel.

Tidak cukup itu, beberapa waktu kemudian, dilontarkan kembali wacana pembatasan penggunaan BBM bersubsidi untuk mobil pribadi yang ber-cc lebih dari 1300. Namun, lagi-lagi ini hanya wacana. Sebenarnya silahkan saja sih membuat wacana, akan tetapi jika itu tidak jadi mending jangan disebarkan lewat media. mengapa? wacana atau isu-isu semacam ini telah secara psikologi membuat harga bergerak naik. Padahal, kita tahu, di Indonesia ini harga yang sudah naik, mustahil turunnya.

Buktinya apa, dari 2 wacana tersebut, secara berturut-turut telah membuat angka inflasi Maret dan April bernilai positif. Padahal jika dibandingkan tahun lalu, angka inflasi di dua bulan ini bernilai negatif. Ini, karena ketidak tegasan pemerintah dalam membuat keputusan. Lha wong tinggal buat keputusan naik atau terapkan gitu aja kok repot. Toh, yang susah kan rakyatnya, dan rakyat pun sudah biasa susah. jadi dijamin tidak kaget lah. Dan efeknya juga pasti dibulan tersebut saja. 2 atau 3 bulan kemudian sudah terbiasa, dan bulan berikutnya sudah siap dengan kenaikan lagi karena lebaran.

Orang Kaya Indonesia yang tidak mau berbagi

Dengan 2 wacana gagal diaplikasikan tersebutlah, akhirnya pemerintah memilih opsi penghematan BBM bersubsidi. Langkah pertama pemerintah telah mencontohkan dengan membuat peraturan bagi semua pegawai instansi pemerintah agar menggunakan bensin non-subsidi. Tapi, sekali lagi peraturan inipun sebenarnya tidak signifikan menolong. karena jumlah pegawai negeri yang memiliki kendaraan roda empat tidak lah banyak.

Sebenarnya aturan ini tidak hanya ditujukan pada pegawai pemerintah saja. Tetapi juga bagi penduduk yang memiliki kendaraan roda empat dengan asumsi pastinya penduduk yang memiliki mobil pribadi pasti penduduk yang mampu. Sekarang jika kita mau hitung-hitungan, seminggu 1 mobil butuh rata-rata 50 liter bensin, sedangkan motor hanya 5 liter. Dengan konsumsi mobil seperti itu, pemilik mobil sebenarnya telah menenggak manfaat subsidi sebesar Rp.1.115.000, per-minggu (worldbank). Dari data susenas 2009 malah lebih miris lagi, ternyata sekitar 40% dari seluruh manfaat subsidi BBM dinikmati oleh 10% penduduk kaya. Sedangkan rumah tangga termiskin hanya menikmati 1% saja.

Tentu, fakta-fakta ini sangat memprihatinkan. karena jika harga BBM naik atau tidak jadi naik, tetap rakyat termiskin lah yang menjadi korban. Namun, sayangnya ditengah upaya penghematan ini, masyarakat kaya masih saja menggunakan “aji mumpung”-nya. mereka masih saja berebut untuk ikut juga mengantre pengisian BBM bersubsidi. Lalu, mau sampai kapan?

About Agung Andiojaya

Simple is better,,, Semoga dengan kesederhanaan ini aku bisa menjadi Hamba yang mendapat Rahmat-Mu dan menjadi hamba yang bermanfaat bagi alam yang Engkau ciptakan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: