//
you're reading...
Bingkai Perjalanan

Taqwa = Disiplin, Berstrategi, dan Memiliki mental kepejuangan

Taqwa

Assalamualaykum warohmatulloh,,,

Astaghfirullahal’adziim,,,

Aku dan jamaah Masjid Al Arqom menutup sholat dhuhur pada senin, 17 Desember 2012 yang dipimpin oleh ustadz Muhsinin Fauzi sekaligus beliau akan mengisi ceramah rutin dwi pekanan di hari Senin dengan tema tazkiyatun nafs atau tafsir Quran.

Sudah cukup lama juga aku jarang mengikuti kajian beliau berhubung hampir disetiap jadwal beliau, selalu saja ada tugas adhoc. Alhamdulillah pada hari ini, tanpa halangan apapun dapat mengikuti lagi. Tema ceramahnya adalah tentang karakteristik taqwa.

Taqwa dan Orang “bejo”

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali-Imran [3]:200).

Didunia ini, orang yang sukses itu tidak terlepas dari yang namanya “bejo” alias keberuntungan. Sepintar apapun dia, sehebat apapun dia jika tidak bertemu dengan yang namanya si “bejo” ini maka ia akan senantiasa dirundung kesusahan, kehinaan, dan yang semacamnya. Maka dari itu ada iklan yang diangkat dari pameo masyarakat bahwa orang pintar itu kalah sama orang “bejo”.

Dari ayat diatas, tampak jelas bahwa yang dimaksudkan dengan orang beruntung adalah jika orang tersebut bertaqwa. Taqwa artinya menjaga hak-hak Alloh. Apa itu, menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Dengan seperti itu, maka beruntunglah dia karena memiliki ketaqwaan itu. Jika ada seorang mukmin menyatakan dirinya tidak mencapai keberuntungan, maka koreksi dengan ketaqwaanya. Jangan-jangan ada yang kurang dengan syarat-syarat Taqwa itu sendiri.

Tiga syarat Taqwa

Ketaqwaan itu tidak datang dengan cuma-cuma, ia juga memiliki syarat. Ada tiga syarat taqwa yang mesti dipenuhi ketiga-tiganya agar seorang hamba dapat sempurna menemui ke-“bejo”-annya:

1. Disiplin

Tanpa didasari kedisiplinan tinggi, mustahil penyebaran Islam ini sedemikian besarnya bahkan dapat bertahan masa keemasan Islam dalam kurun waktu 7 abad lamanya. Mengapa, karena kedisiplinan yang tinggi dari umat muslim itu sendiri.

Kedisiplinan sendiri itu membutuhkan pengorbanan dari diri kita. Pengorbanan atas kemalasan kita, pengorbanan atas keengganan, pengorbanan dari rasa takut, dan dari segala macam alasan yang menghambat. Sehingga tidak heran jika ciri khas orang yang disiplin itu pasti ia rajin, tegas, jujur, dan berani. Kita sebenarnya sudah memiliki banyak sekali contoh dari apa yang telah dilakukan oleh Nabi SAW para sahabatnya.

Kita ingat sahabat Muadz bin Jabal yang diutus ke Yaman, kemudian Amru bin ‘Ash yang diutus ke Mesir yang notabene pada saat itu kendala bahasa adalah kendala yang utama dalam misi tersebut. Namun, apakah mereka bilang “cyuusss….” atau mereka letoy lalu bilang “maaf ya Rosul, mohon dipertimbangken..saya kan gak lama ngajinya..”. Tidak, bukan itu yang mereka katakan, tapi “sami’na wa atho’na”. Bismillah, berangkat. Hasilnya, luar biasa.

Sehingga, suatu prestasi, ketika hanya dalam kurun waktu 23 tahun Islam itu sudah sempurna dan jaya di tanah Arab. Islam sebagai jalan hidup, sebagai agama, sebagai sosial-ekonomi, sebagai negara, dan dalam berbagai sendi kehidupan. Ingat, waktu 23 tahun itu sangat sempit sekali bagi pembangunan suatu paham dari kondisi nol kepada kondisi yang dapat merubah sejarah. Lha wong Pak Harto aja yang mampu menggenggam Indonesia ini selama hampir sepertiga abad dengan ideologi demokrasi ala militernya aja rontok alias gak langgeng, dimana hasilnya adalah suatu negara yang rapuh dan diwarisi krisis multidimensional.

2. Senantiasa mencari jalan bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Alloh

Jika kita ingin menggunakan bahasa manajemen, memiliki strategi yang efektif. Kan judulnya mencari jalan yang itu sejatinya sama saja kita sedang berstrategi. Strategi untuk apa? mencari jalan terefektif, tercepat, terbaik dalam upaya kita mendekatkan diri pada Alloh SWT.

Sehingga dalam aplikasinya, seorang hamba tidak akan pernah cukup dengan mengerjakan amalan-amalan faraidh (wajib) nya saja, namun juga akan berupaya menambah ibadah-ibadah nawafil. Seperti:

a. sahadat itu fardhu, maka sunnahnya adalah kalimat Laa ilaa ha ilallah.

b. shalat 5 waktu itu fardhu, maka sunnahnya rawatib, dhuha, tahajud, dll

c. zakat itu wajib, sunnahnya shodaqoh, infaq, dll

d. Puasa Ramadhan itu wajib, sunnahnya puasa ayyamul bidh, senin kamis, daud, dll

e. Haji itu wajib, maka sunnahnya adalah sunnah2 Haji.

Akan tetapi ada satu catatan, kita jujur ajalah, jaman sekarang susah banget kan kalo mengerjakan semua itu. Tapi sebagai orang mukmin bertaqwa, kita harus berstrategi dong menghadapi keterbatasan yang menimpa orang-orang akhirin ini.

So, kerjakanlah suatu amalan yang kita mampu untuk istiqomah, meskipun itu hanya mengikhlaskan kesalahan orang lain kepada kita. Karena harapan kita adalah, amalan tersebutlah yang akan menjadikan ciri yang mudah dikenali bagi kita pada saat menghadap Robb kita di yaumil akhir nanti.

Ingatkan kisah Bilal yang senantiasa menjaga wudhunya dimana dengan hal tersebut terompahnya terdengar di surga. Atau kisah sahabat yang menginap di tempat sahabat lain dengan tujuan mengetahui amalan rahasia apa yang menyebabkan ia disebut Rosulullah tiga kali berturut-turut pada tiga kesempatan berbeda sebagai ahli surga.

3. Bermujahadah

Bersungguh-sungguh dalam melaksanakan taqarub, berjuanglah. Ada 4 tingkatan Jihad, 1. terhadap diri, 2. terhadap setan, 3. terhadap orang kafir dan munafik, 4. melawan pengusung dan penyeru kezaliman. Pada tingkatan ketiga dan keempat dibagi lagi pada tiga tingkatan lagi, a. dengan kekuasaan jika mampu, b. dengan lisan, c. dengan hati dan ini selemah-lemahnya iman.

Bermujahadah berarti kita siap mengorbankan harta dan jiwa kita demi mencapai tujuan. Tidak ada main-main, tidak ada bersantai ria, tidak ada bermalas-malasan. Sehingga sifat yang terlahir dari mujahadah adalah sifat kepejuangan.

Sifat kepejuangan adalah sikap yang pantang menyerah, bersungguh-sungguh, tak kenal takut, tanpa kompromi untuk mencapai tujuan. Cukuplah sirah nabi dan sahabatnya menjadi inspirasi bagi kita. Tidak perlu lihat film 300 yang menjiplak sirah nabawi ini.

Pada waktu perang uhud, kita ingat betapa gigihnya sahabat Mushab bin Umair dalam melaksanakan tugasnya sebagai pembawa bendera Islam. Beliau mempertahankan agar bendera tersebut jangan sampai jatuh ke tanah meskipun harus dengan nyawanya. Kita baca sirah, bagaimana ketika tangan kanannya memegang bendera lalu ditebas oleh orang kafir maka ia dengan cepat memegang bendera tersebut dengan tangan kirinya. Tak lama kemudian, tangan kirinya pun ditebas lagi lalu lagi-lagi ia coba mempertahankan tegaknya bendera tersebut dengan lehernya. Akhirnya kaum kafir menebas lehernya hingga tubuhnya pun jatuh ketanah, namun bendera masih tetap tegak, karena syayidina Ali yang segera merebut bendera tersebut sekaligus menggantikan tugas sahabat Mushab yang telah syahid. Alhasil, sampai dengan akhir perang Uhud, bendera kaum muslimin tidak sampai jatuh ke tanah.

Sehingga sebenarnya, pada perang Uhud, kaum muslimin tidak kalah. Karena bendera tidak jatuh ke tanah. Kalaupun bubar pada waktu itu, karena suatu siasat saja. Buktinya, para panglima tertinggi kaum muslimin yaitu, Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar masih hidup.

Dengan sikap mujahadah pula, yang membuat seorang mukmin bersikap tegas, nggak plin-plan, dan tanpa tawar-menawar demi cita-citanya. Teladan sempurna seperti ini telah dicontohkan Rosulullah yang terkenal dengan perkataan beliau kepada pamannya yang didesak kaum kafir:”Paman, seandainya matahari diletakkan di tangan kananku dan bulan diletakkan di tangan kiriku, supaya aku berhenti melaksanakan tugas (dakwah) ini, hal itu tidak akan kulakukan sampai Allah menampakkan agama Islam atau aku hancur karenanya (dalam melaksanakan dakwah) ”

Bagi seorang mukmin dalam meraih tujuan dan apa yang menjadi cita-citanya, hanya ada dua: tercapai tujuannya atau mati dalam mencapai tujuan itu. Tidak ada pilihan ketiga, misalnya ganti tujuan atau menyerah atau mundur kembali. Sekali lagi tidak ada pilihan ketiga bagi mukmin dalam bermujahadah mencapai tujuannya. Sehingga, mari kita lihat betapa kedua pilihan tersebut mencirikan bahwa mukmin merupakan golongan yang mulia.

Dalam era reformasi birokrasipun seharusnya bagi PNS mukmin, tunjukkan semangat ketaqwaannya. Sistem RB sudah bagus dan jelas efisien dalam menjalankan tugas kepemerintahan. Sekali genderang RB ditabuh, pantang bagi PNS mukmin mengucapkan, yah ternyata RB gak enak, kita balikin aja ke sistem lama yuk. Tidak ada sifat seperti itu. Ingat sekali lagi kita pantang mundur.

Ciri Mukmin Bertaqwa

Dari uraian sebelumnya dapat kita tarik kesimpulan bahwa seorang mukmin yang bertaqwa dimana dengan ketaqwaannya, ia akan menjadi orang-orang yang disebut Alloh sebagai orang yang beruntung jika ia telah memenuhi ketiga syarat taqwa itu sendiri. Oleh karena itu, manifestasi dari syarat menjadi orang beruntung tersebut akan membentuk karakter mukmin yang disiplin, berstrategi, dan kepejuangan. So, at the end, marilah kita penuhi syarat-syarat sebagai orang bertaqwa, setelah itu marilah kita raih bersama-sama janji Alloh bahwasanya keberuntunganlah yang berhak disandang oleh orang-orang yang bertaqwa.

 

About Agung Andiojaya

Simple is better,,, Semoga dengan kesederhanaan ini aku bisa menjadi Hamba yang mendapat Rahmat-Mu dan menjadi hamba yang bermanfaat bagi alam yang Engkau ciptakan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: