//
you're reading...
Bingkai Perjalanan

6 in 1: Fenomena akhir tahun

traveling

19 Desember 2012.

“Mas aku udah ada di depan”, baris kata di sms yang aku terima jam 9 pagi ini.

“Oke, posisi dimana?”, balas sms ku.

“ada di pos satpam.” balas orang tersebut.

Bergegas aku keluar dari ruangan dan menuju tempat yang dimaksud. Dengan setengah berlari aku menuju pos satpam, kulihat hanya ada seorang pria setinggi kurang lebih 1,7 meteran lah, mengenakan batik motif keris warna coklat. Bawahan warna gelap dan menggendong tas punggung gak tau merk apa, tapi mirip dengan model Export. Di tangannya menggnggam sebuah map batik juga. Semakin dekat semakin dapat aku memperhatikan dengan seksama.Cuma, yang pasti dia bukan putra asli Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagaimana pemberitahuan kepadaku beberapa hari lalu asal tempat dia bekerja.

Sejenak kami bertatap-tatapan. Kemudian by gambling kami pun saling menyapa. “Assalamualaykum si Fulan ya?” tanyaku sembari mengulurkan tangan yang langsung disambutnya dengan senyuman, “waalaykumsalam wr wb, ya benar, dengan Mas Agung ya.” tanyanya retoris.

“Ok Mas, ini rencana mau ketemu siapa? ayo segera saya antar”. To the point sajalah tanyaku. Toh, banyak agenda yang menantiku juga.

“Hmmm gini Mas, saya sebenarnya kesini mau konsultasi.” Pernyataan dia sempat membuat dahiku berkernyit. “rencananya saya ingin konsultasi tentang masalah kemiskinan terutama terkait dengan data penduduk miskin yang menerima bantuan raskin,pkh, dll.” lanjutnya.

“Ini sppd saya Mas sekalian nanti minta tolong diisi”. sambungnya lagi.

Ternyata map batik yang kulihat tadi adalah sppd si fulan ini. Kuterima lalu kubuka tersebut kemudian kudapatlah informasi tentang si fulan bahwa berdasarkan sppd tersebut, dia adalah orang pemda, tujuannya untuk memperoleh penjelasan tentang pelaksanaan pendataan penduduk miskin yang dilakukan BPS terkait dengan penerima program bantuan pemerintah, lalu lama tugasnya sekitar 6 hari. Busyet nih orang, apa butuh selama itu.

Pikirku, tidak perlu sepanjang 6 hari lah untuk menyelesaikan pembahasan seperti tujuan sppd tersebut. 1 jam pun udah kelar. Kulihat dengan detil tas yang dia bawa, sepertinya enteng dan isinya paling juga angin. “Maaf mas, apa saja agenda selama 6 hari ini Mas?”tanyaku kemudian.

“Begini mas, saya jelaskan dulu ya. Di kecamatan kami, kepala desanya banyak yang tersangkut kasus pidana sehingga tidak dapat melanjutkan tugasnya. Akhirnya apa, kamilah yang di kecamatan yang menekel sementara tugas-tugas tersebut, Termasuk tugas membagikan jatah raskin atau program PKH.” terangnya.

“Tapi Mas, ketika kami telah membagi sesuai dengan data yang ada, banyak terjadi ketidak sesuaian dengan kondisi lapangan yang efeknya banyak warga yang protes dan tidak terima. Untuk itu, saya diutus kesini untuk mendapatkan kejelasan tentang data tersebut.” imbuhnya.

“Selain itu apalagi Mas?”tanyaku

“Ya itu saja Mas, perkiraan sih sehari selesai, jadi sisanya saya mungkin tinggal di saudara”.jawabnya lagi yang langsung membuatku dongkol.

“Yah, ini kan namanya pemborosan mas.” selorohku, tapi yang dimaksud malah cengar cengir aja.

“Untuk tanda tangannya juga, mas juga bisa yang kasih”.imbuhnya tanpa rasa bersalah. Whats,,,aku hanya senyum saja.

“Ya sudah mas, kalau untuk masalah kemiskinan bisa menghadap langsung ke direktorat yang mengurusinya”. Jawabku dengan ogah-ogahan.

Benar-benar deh nih orang, dan instansi yang menaunginya. Instansi yang seperti inikah yang katanya telah mencapai WTP?apakah ditangan instansi seperti inikah nasib rakyat diurus. Oleh karena itu, tak heran jika prestasi pertumbuhan ekonomi Indonesia ini bak kembang gula, gedhe tapi sebenarnya isinya angin doang. Kue kesejahteraan tidak merata alias hanya berputar-putar di orang-orang tertentu.

Lalu bagaimana selanjutnya, singkat cerita, orang tersebut ditolak di tiga tempat. Pertama kan dari aku, terus aku arahkan ke Subdit kerawanan sosial yang memang menangani langsung masalah kemiskinan. Kemudian ternyata subdit nya lagi konsinyasi dan diarahkan ke tempat subdit analisis statistik yang mengurusi IPM dan kajian tentang perkembangan sosial ekonomi. Ternyata tidak mau menerima karena si Fulan tersebut maunya cuma minta tanda tangan n cap perjalanan dinas aja (secara mungkin dijelasin juga gak nyambung)

Nah, dari subdit analisis statistik, si Fulan ini diarahkan kembali ke Humas dan ternyata Humas tidak bisa menerima juga, kemudian diarahkan kembali ke subdit layanan dan konsultasi statistik dan lagi-lagi ditolak. mungkin karena capek ditolak dia menghubungiku kembali. Pikirku, mungkin karena cara perjalanannya gak bener jadi kena doa nya rakyat yang punya uang untuk perjalanan itu deh. Hehehe..

“Gimana Mas?”tanyaku

“Gini mas, saya itu sebenarnya yang butuhnya cuma konfirmasi saja mengenai data yang digunakan sebagai dasar pembagian bantuan itu kok terjadi ketidaksesuaian itu karena apa sih?atau mengapa sih si A, B, atau C yang dapat”.jawabnya.

“Oo maksudnya kriteria penentuan orang miskin tersebut ya?”tanyaku.

“Ya itu mas maksudnya, bagaimana sih penentuannya” balasnya.

“Ok, sebelumnya akan saya ceriterakan dulu asal muasalnya. Jadi pemerintah ini ingin membangun suatu basis data terpadu mengenai penduduk miskin yang nantinya akan menjadi sumber data dalam menentukan pemberian berbagai program bantuan pemerintah.

Oleh karena kebutuhan seperti itu, maka diperlukanlah suatu pendataan orang-orang miskin di Indonesia untuk membangun basis data tersebut. Siapa yang melaksanakannya? BPS melalui kegiatan Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) 2011. Dari hasil PPLS ini akan tersedia data 40 persen penduduk Indonesia yang berpengeluaran terendah. Mengapa 40 persen, dari hasil kajian data susenas, didapatkan bahwa penduduk yang menduduki kriteria miskin dan hampir miskin (1 GK s.d. 1,6 GK) mencapai sekitar 40 persen. Orang hampir miskin diikutkan juga karena mereka adalah golongan penduduk yang rentan sekali terhadap pergolakan ekonomi yang terjadi. Sedikit saja terjadi gonjang-ganjing, penduduk rentan miskin ini sangat mudah kecebur menjadi miskin.

Bagaimana penilaian seorang benar-benar terkategori miskin? pada PPLS, terdapat 26 variabel yang digunakan untuk menilai apakah dia termasuk penduduk miskin atau bukan.

Kemudian, setelah didapatkan data penduduk miskin dari PPLS, data tersebut diserahkan kepada Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) untuk dijadikan sebuah basis data terpadu. Nah, melalui basis data terpadu inilah, setiap pemerintah; melalui kementerian terkait; memiliki program pengentasan kemiskinan, penduduk yang berhak menerima ditentukan.

Akhirnya, ingat ya prinsipnya, BPS hanya menyediakan data 40 persen penduduk pengeluaran terbawah, kemudian yang menentukan kuota berapa banyak penduduk yang menerima bantuan itu adalah kementerian terkait, sedangkan yang menentukan nama-nama penduduk yang menerima bantuan adalah TNP2K.

Sampean mudeng ora Mas?”. tanyaku akhirnya.

Kulihat tampang kusut yang berkali-kali lihat jam ditangannya.”Maaf mas, mungkin tolong sppd saya ditandatangani ya. Coz saudara saya sudah nunggu lama didepan”.

“Cyuuuuus,,,Myapaaa….???”.untungnya aku pake sepatu.

About Agung Andiojaya

Simple is better,,, Semoga dengan kesederhanaan ini aku bisa menjadi Hamba yang mendapat Rahmat-Mu dan menjadi hamba yang bermanfaat bagi alam yang Engkau ciptakan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: